Skip to main content

Little You and I

Kala itu sore bermandikan hujan, wanita itu duduk sendiri di bangku keras yang ada di taman kota. Dia terlihat sangat menikmati kesendiriannya dengan mendengarkan musik dari Ipod kesayangannya dan juga ditemani sebuah buku non-fiksi berjudul Sheila. Belakangan ini wanita tersebut sering terlihat sendirian di taman kota itu. Entah apa yang ditunggunya, dia datang di waktu yang sama dan pergi di waktu yang sama pula.

Sudah satu jam sejak kedatangannya di taman kota itu, dia masih saja sendiri. Sambil terkadang ia tersenyum kecil saat membaca bukunya. Sampai akhirnya dua jam berikutnya, dia menutup bukunya. Matanya pun kemudian menyapu keadaan sekitar yang sudah mulai gelap. Kemudian ia pun bergegas pergi dari bangku yang keras tersebut.

---------

Pria itu terus menatap wanita yang sedang duduk di sebuah bangku taman kota. Bisa dikatakan bahwa ia penasaran dengan wanita itu. Sejak pertama kali ia melihat wanita tersebut, entah mengapa ada perasaan tertarik yang cukup besar untuk mengenalnya. Padahal wanita itu bisa dibilang biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari caranya berpakaian. Tidak seperti wanita-wanita modis yang diidam-idamkan para pria ibu kota. Namun, ada sesuatu yang entah mengapa membuat pria itu penasaran. Sehingga sudah lebih dari seminggu, ia memperhatikannya dari kejauhan.


----------

Akhirnya di hari kedelapan, Pria tersebut memberanikan diri untuk mendekati dan mengajak wanita tersebut untuk berkenalan.

Pria : Halo.
Wanita : oh, Halo.
Pria : Saya mengganggu ya?
Wanita : Oh, ga ko. Ada apa ya?
Pria : Perkenalkan, saya Pria. Sudah delapan hari ini saya memperhatikan kamu suka duduk sendirian di taman ini. Seperti ada sesuatu yang kamu tunggu. Kalo boleh tahu, nama kamu siapa?
Wanita : Nama saya Putri. Oh, haha ya saya memang senang berada di taman ini. Saya punya banyak sekali kisah yang terjadi di sini. Karena itu saya senang berada disini.
Pria : Oh, begitu. Apakah ada seseorang yang kamu tunggu?
Wanita : hmmm.. tidak juga. Saya tidak menunggu siapapun. Tapi memang saya menunggu waktu.
Pria : Waktu untuk apa?
Wanita : haha, perlukah saya memberitahu mu tentang hal itu? Tidak cukup penting untuk kamu ketahui, menurutku.
Pria : Baiklah, mungkin belum saatnya saya untuk mengetahuinya. Tapi, bisa kah kita berteman?
Wanita : Oh, tentu saja. Dengan senang hati, Pria.


----------

Pria pun tersenyum, dan kemudian mengajak Putri untuk makan malam bersama. Sejak hari itu, hubungan keduanya semakin akrab. Mereka selalu bertemu setiap sore di taman ibukota tersebut.


(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Rabu Asoi

Tidak perlu khawatir apabila seharian harus tinggal dirumah. Karena ada kegiatan asoi yang bisa kita lakukan. Yang dibutuhkan adalah, dinding putih tanpa poster, laptop/komputer, speaker, dan proyektor! Yiha! Dengan keempat barang itu kita bisa melakukan kegiatan asoi di kamar sendiri. Bahkan tidak perlu datang ke bioskop-bioskop terdekat untuk menonton dengan asoi.
Awalnya cuma berniat mencoba menghubungkan netbook ke proyektor karena besok ada seorang teman yang akan meminjam netbook saya untuk sidang skripsinya. Kemudian lampu kamar saya matikan, gorden jendela saya tutup, proyektor saya nyalakan, video diputar, lalu speaker dicolokkan. Jadilah saya menonton video-video dengan perasaan penuh keasoian. 
Ayo kita buat "bioskop" sendiri di kamar! hahay.

Selamat hari rabu!

Pekerjaan Impian

Beberapa menit lalu tidak sengaja membaca sebuah tulisan dari temannya teman. Topik menarik dengan sebuah pertanyaan yang menyentil "What is your dream job?". Jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada saya beberapa tahun silam, mungkin akan sulit untuk menjawabnya. Banyak sekali yang saya minati, dan banyak juga yang saya inginkan. Saya ingin menjadi penulis, ingin juga menjadi fotografer, lalu juga ingin menjadi pemilik agen travel. Beberapa pekerjaan yang saya impikan secara serius salah satunya adalah keliling dunia menonton konser-konser musisi hebat dan mendokumentasikannya. Saya ingin menjadi fotografer panggung.Tahun demi tahun berlalu, kisah demi kisah terlewati. Ada pengalaman baru yang membuat mimpi tersebut menjadi berkembang. Berkembang ke arah tidak terlalu ngoyo alias saya pasrahkan mimpi tersebut dengan pemikiran, yang penting saya mengerjakan sesuatu yang memang saya senangi. Beruntung, di tahun 2013 awal, saya sempat bekerja paruh waktu sebagai reporter ku…

Lupa Telah Bersuami

Kehidupan rumah tangga ini sepertinya akan sangat menyenangkan dan penuh tantangan. 
Kenapa? Karena saya menghabiskan setengah bulan di Yogyakarta, bersama suami, dan setengah bulan tanpa suami di Bandung.
***
Pertengahan sampai akhir Maret lalu, saya di rumah suami. Suatu hari, saya kedatangan tamu dari kampung sebelah, Keke Ode Naomi, yang adalah teman suami juga. Tepat ketika Keke datang, suami saya sedang pergi melatih merpati-merpati kesayangannya untuk terbang. Kami pun memutuskan untuk pergi ke tempat bakso favorit saya, Bakso Ronayan.
Saat menguyah bakso, sebenarnya saya sempat berpikir, "Hmmm, kayanya bisa sih dibungkus dan dibawa pulang baksonya. Eh, tapi nanti kemakan ngga ya?". Sayangnya, pemikiran itu hanya muncul sekali saja, lantas saat saya dan Keke asyik bercerita tentang hal-hal yang menarik bagi wanita, saya seketika lupa untuk membawa pulang bakso tersebut untuk suami.
Begitu tiba di rumah, dan suami sudah pulang, saya dengan wajah berseri cerita ke suam…