Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2012

Realita

Diujung jalan sana, aku melihat seorang anak kecil menangis. Badannya kurus, memakai baju terusan dengan motif bunga-bunga, sepatunya masih putih bersih, cantik. Aku pandangi es krim yang digenggam ditangan kanannya, sudah meleleh dan membasahi tangan mungilnya. Perlahan aku mendekati, dalam diam aku belai kepalanya. Aku mengambil posisi berlutut, aku tatap mukanya lebih dekat, dia masih menangis tersedu-sedu. "Ada apa adik kecil? Kenapa kamu menangis?" aku bertanya dengan lembut. Dia membuka matanya, menatapku dengan berlinang air mata. Aku ambil sapu tangan didalam tas merahku. Aku hapuskan air matanya dengan lembut. Anak ini memiliki mata yang sangat indah, kasihan sekali mata indah itu tidak bisa berhenti mengeluarkan air mata. Tampaknya kesedihan telah menguasai seluruh tubuhnya. Aku coba sekali lagi mengajaknya berbicara, "Ada apa sayang? Kemana Ibumu? Apa kamu tersesat?". Dia mulai berusaha menghentikan tangisannya. Setelah itu dia mengusap mata dengan tang…

Sadar

Kubaca lagi surat yang pernah kau berikan kepadaku.
Pernah aku bertanya, apa yang membuatmu mengeluarkan kata-kata ini?
Refleksi diri sendiri katamu.
Heran yang ada dibenakku, karena apa yang kau tuliskan jauh berbeda dengan apa yang kau lakukan.

Hari-hari berlalu, akhirnya aku bisa melihatmu bermimpi.
Kini aku tahu apa yang membuatmu menuliskan kata-kata itu.
Aku tidak tahu pasti, hanya menyimpulkan sendiri.
Kau menuliskan refleksi diri mu sendiri yang ada di alam mimpi.
Ya, kau sekarang tertidur pulas, jauh disana.
Ada yang memainkan peranmu di alam mimpi ini.
Kau berkeringat, bergelisah, ingin segera sadar dari mimpi buruk itu.
Tapi apa yang bisa aku lakukan?
Berusaha membuatmu sadar, tapi bahkan tanganku tak bisa menyentuh wajahmu.
Aku coba berkali-kali, si pemilik peran yang sedang sadar itu ternyata anti sentuhan.
Aku tidak menyerah, ya setidaknya aku tetap berdoa.
Biar Allah yang membangunkanmu, dengan sentuhan lembutnya.
Dan menjauhkanmu dari mimpi buruk itu.
Sadarlah, aku aka…

Baru

Aku yang selalu percaya bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya.

Seseorang datang mendekatimu, dan memukul tanpa sebab, pasti sebenarnya ada sebabnya.

Diberikan musibah tiada henti, padahal diri ini sudah mengikuti apa perintahNya, tetap ada sebabnya.

Karena katanya takdir itu adalah sebab akibat.

Yang telah terjadi atau bahkan sedang terjadi hari ini, adalah akibat dari perbuatan di masa lalu.

Kini bukan saatnya berpuas diri.

Saatnya kembali berjalan, meninggalkan jejak langkah yang bisa menjadi semangat baru untuk sesama.


Rahasia

Pagi ini begitu indah
Kicauan burung diluar jendela terdengar meriah
Aku terbangun di atas kasur berselimutkan hijau
Ternyata masih dengan pakaian lengkapku
Syukur ucap dalam hati, aku masih diizinkan bernafas hari ini
Beban dipundak akan segera kulenyapkan
Diganti dengan secercah harapan akan hari yang baru
Apa yang bisa aku lakukan ya hari ini?
Tentu saja banyak sekali yang bisa dilakukan
Tunggu, apa tujuan kita waktu itu?
Oh, agar bisa bermanfaat
Bagi diri sendiri, kataku
Untuk orang lain, katamu
Diri sendiri dulu, baru orang lain, debatku
Untuk orang lain, kau bersikukuh
Sudahlah, dunia ini lebih butuh kita
Untuk melakukan aksi nyata
Begitu tutupmu

Kicauan burung sudah tidak terdengar lagi
Saatnya mereka menghidupi kehidupan
Terbang bebas di langit
Bukan tanpa tujuan
Sama seperti kita yang terus berjalan
Ingat akan tujuan yang ingin diraih
Berhenti sebentar jika kita lelah
Jangan memaksa untuk terus berlari
Kumpulkan kembali semua energi
Evaluasi kembali apa yang telah terjadi
Men…

Jika memang

Jika memang hidup ini sementara
Apakah memang seharusnya kita tidak saling bicara?
Jika memang hidup ini berlumur dosa
Apakah seharusnya kita tidak saling bertatap mata?
Jika memang hidup ini sementara
Buat apa kita saling mencinta?

Sang Pengawas

Kemana akan kau bawa pergi
Langkah kaki yang terus menangisi
Tentang jiwa yang hampir mati
Tenggelam dalam surga duniawi

Kemana akan kau bawa lari
Semua janji yang tak pernah ditepati
Dan nikmat yang selalu di ingkari
Terlalu jauh sudah ditapaki
Ada satu yang belum dicermati

Tidak harus saling melukai
Untuk mendapat surga duniawi
Diamlah, tegak berdiri
Sambil terus meng-amini
(Karena kita sedang diawasi)

Mengapa Manusia?

Berbicara soal perasaan, hebat sekali ya Nabi Muhammad itu. Teringat cerita guru agama sewaktu sekolah dulu, Nabi orang yang sangat sabar, bahkan ketika seseorang meludah kepadanya, dia tidak marah. Sedangkan kita? Mobil dipepet dikit rasanya kesal bukan main, tak jarang sumpah serapah dikeluarkan untuk meluapkan kemarahan itu. Lantas, apa manfaatnya?
Selama setahun ini ada yang mengajariku tentang kesabaran dan keikhlasan. Tentu saja dia mengajarinya bukan dari sekedar omongan, tapi tindakan. Sering kali dia meminta maaf duluan, padahal aku pun salah. Tak jarang juga yang dia bicarakan tentang kebaikan ku, apa yang kubalas? Aku sindir dia tentang kekurangannya. Aku terlalu banyak memakai perasaan pada saat itu, ya saat menulis sekarang ini pun tentu perasaan-perasaan itu aku alirkan lewat rangkaian kata ini. Pembelaanku? Namanya juga wanita, semua lebih memakai perasaan daripada logika. Tapi bukan itu yang mengganggu pikiranku saat ini, bukan itu. 
Aku sering kali bertanya "men…

Perasaan

Semua berbicara tentang perasaan
Yang satu menuntut yang lainnya untuk mengerti
Yang lainnya menuntut yang satu untuk memahami
Semua sibuk dengan perasaan masing-masing

Yang satu tersinggung karena yang lain
Yang lain terluka karena yang satu
Masih terus meributkan tentang perasaan
Tanpa menyadari apakah mereka sudah memikirkan perasaan dan si perasaan itu sendiri?

Semua berbicara tentang perasaan
Semua ingin menang
Seolah ribut untuk sebuah kekuasaan

Papa-ku

Kembali mengingat apa yang pernah terjadi beberapa tahun silam.
Ketika itu aku berumur 8 tahun, masih menjadi siswi kelas 2 SD di Duri, Riau. Aku mendapat berita bahwa aku, mama dan abang-abang akan dipindahkan ke Bandung. Sepertinya saat itu aku tidak bisa menerima keputusan papa yang berniat memberikan pendidikan dengan fasilitas yang lebih baik. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menyatakan bahwa aku lebih memilih tinggal bersama papa. Mendengar itu, aku pun langsung diberi "ancaman" dengan sebuah pertanyaan, "kalau tinggal sama papa, kamu mau masakin papa?". Seingatku, aku menjawab, "adek bisa masakin telor". Tentu saja pernyataan itu ditolak mentah-mentah. Anak umur 8 tahun, bahkan makan pun masih belepotan, berniat tinggal berdua saja bersama papanya, jauh dari mama yang memang bertugas untuk mengurusnya. Dengan berat hati, akhirnya aku menuruti kemauan papa dan mamaku. Kami pun pindah ke Bandung, tanpa papa. 
Sebenarnya, kami juga bukan tipe kel…