Skip to main content

Karimun Jawa (edisi lengkap)

(stasiun padalarang)

(empat tiket kereta ekonomi seharga 30.000 rupiah)


(kami naik di gerbong kedua)

Senin, 5 Juli 2010 pukul 07.00 PM. Itu lah jadwal keberangkatan kereta kami. Setelah beberapa hal tidak terduga terjadi pada hari-hari sebelumnya, yang menyebabkan perjalanan hampir tertunda (lagi) -- awalnya kami berencana berangkat pada 28 Juni 2010 --, akhirnya kami pun berangkat menuju Karimun Jawa dengan menggunakan kereta api ekonomi Kahuripan, dan berhenti di kota Solo.


Menurut jadwal yang tertera pada karcis, kami akan tiba di Solo pukul 07:22 AM. Tapi ternyata kereta tiba di stasiun Solo Balapan pada pukul 8:36 AM. 


Dengan perbekalan dari Bandung yang cukup banyak, kami pun dijemput oleh kakak nya Ari yang tinggal di Solo. 


Di perjalanan menuju rumah kakak nya Ari, awalnya kami ditawari Burger sebagai makanan pagi. Namun, Ari menolaknya dan meminta dikasih makanan khas Solo. Akhirnya kami pun dibawa menuju warung soto Ledokan.

(tahu besar yang kayanya asoi)
(barang wajib Nasrul Akbar, sebelum melakukan aktivitas apapun)
(Band Cafe di Solo)

Ada yang sangat menarik di rumah-rumah makan di kota Solo ini, yaitu adanya band pengiring makan yang melantunkan lagu-lagu jawa yang sangat cocok untuk menemani kita menyantap makanan. Suara merdu yang keluar dari mulut bapak vokalis dan debuman bass dari bass betot serta petikan lembut dari ukulele membuat suasana di rumah makan tersebut menjadi sangat menyenangkan.


Ini namanya liburan backpacker sehat, haha. Sesampainya dirumah kakak nya Ari, setelah mandi, dan beres-beres tas lagi, kami kembali dihidangkan makanan. Kata si mang nya sih, ini makanan khas Solo. Terdiri dari Tahu, Mie kuning, dicampur bumbu yang seperti bumbunya pempek. Rasanya asoi. Mang nya lucu sekali, beliau tiba-tiba bilang begini waktu saya nanya-nanya tentang makanan yang beliau jual, "Jualan buat makan mba, biar ga malu". Mungkin maksudnya, dia ga malu untuk jualan keliling kampung demi mencukupi kebutuhan hidupnya, daripada dia hanya santai-santai dan tidak mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhannya, itu akan lebih memalukan.


Hari semakin siang, saatnya berangkat menuju Jepara! Rencananya kami akan diantar sampai terminal bus yang ada bus menuju Semarang, kemudian dari Semarang kami menuju Jepara. Namun sebelumnya, kedua orangtuanya Ari mengajak kami berputar-putar di kota Solo, sambil membeli beberapa cemilan khas sana dan makan Timlo (makan lagi??).



Timlo itu terdiri dari sosis solo besar-besar yang digunting-gunting, ati, dan ampela dengan kuah yang saya rasa seperti kuah baso. Menurut saya sih rasanya enak, tapi menurut bapaknya Ari, rasanya tidak begitu enak. hahaha. Lagi-lagi di warung itu ada band pengiring makannya. Sepertinya khasnya Solo memang selalu ada band pengiring di warung-warung makannya, entahlah, saya pun baru satu kali kesana. :D

Ini memang backpacker sehat namanya, sepanjang waktu tak henti-hentinya menguyah. Setelah kenyang dengan timlo, saatnya kami memakan Lekker. Cemilan Solo ini semacam crepes yang berisi pisang dan coklat. Enak sekali.

Ternyata ayahnya Ari berubah pikiran, kami pun akhirnya mau diantarkan sampai Demak untuk naik Bus menuju Jepara. Dan setelah melewati jalanan yang berombak dan mampir sebentar di mesjid agung Demak, jam 8 malam kurang kami menunggu bus menuju Jepara. Bus nya ternyata semacam bus-bus KPAD, yang penumpangnya pasti ada yang berdiri dan bus nya tidak begitu besar. Kami membayar 10ribu tiap orangnya untuk sampai ke alun-alun Jepara. Sampai alun-alun, kami naik becak menuju terminal bus Jepara. Awalnya kami berniat untuk membeli tiket untuk pulang ke Bandung, tapi ternyata tidak ada loket bus yang masih buka, sehingga kami pun langsung menuju pelabuhan Kartini. Sampai sana, awalnya kami berniat kemping, karena memang kami sudah mempersiapkan tenda agar budget perjalanan ke Karimun Jawa ini sesuai dengan budget nekat kami, yang kami perkirakan akan habis sekitar 300rb. Tapi, karena ada gosip bahwa akan selalu ada patroli petugas setiap jam 12 malam, dan di khawatirkan kami tidak bisa kemping, akhirnya kami pun memutuskan untuk tinggal di penginapan keluarga di pelabuhan tersebut. 

(museum kura-kura di pelabuhan Kartini)

Disana kami bertemu dengan seorang bapak yang membuat liburan kami ke Karimun Jawa ini semakin berkesan. Namanya Pak Bagus, beliau adalah seorang guru di Karimun Jawa. Awalnya Nasrul berbincang-bincang mengenai Karimun Jawa pada malam harinya, dan beliau memberi kami sedikit info tentang pulau itu. Keesokan paginya, saat Ari mau membeli tiket bus untuk kembali ke Bandung, Pak Bagus menawarkan diri untuk mengantar Ari dengan menggunakan motor. Kemudian beliau menjelaskan, nanti kami bisa pergi ke kapal ferry bersama beliau, menggunakan motornya. Pak Bagus kebetulan membawa dua motor. Jadi ceritanya, Pak Bagus ini mau meng-service motornya di Jepara, makanya beliau membawa dua motor. Dan sebelumnya, beliau harus bulak-balik membawa motornya turun dan naik ferry. Jadi beliau menawarkan bantuan kepada kami, daripada kami jalan kaki ke ferry dengan menenteng barang bawaan sangat banyak, motor nya yang satu lagi dibawa oleh saya saja. Jadi saya membonceng Aul, dan Pak Bagus berbonceng tiga bersama Nasrul dan Ari. Solusi yang sangat efektif dan efisien sekali memang. 


Penyebrangan ferry dari Jepara ke Karimun Jawa menghabiskan waktu sekitar enam jam. Dengan tiket kelas ekonomi, saya bersama Nasrul pun lebih banyak menghabiskan waktu di rooftop kapal. Yang pada akhirnya membuat muka saya sudah terbakar dengan sempurna pada hari pertama kami sampai di Karimun Jawa.

(kegiatan penghilang penat, membuat bayangan mata)

HOREEEE! Akhirnya sampai Karimun Jawa sekitar pukul tiga sore. Dengan (kembali) mengendarai motor Pak Bagus, kami diarahkan menuju sebuah penginapan yang harga nya 70rb rupiah semalam. Kebetulan tidak ada yang menginap lagi saat itu di sana, sehingga kami serasa menyewa satu rumah dengan seharga satu kamar.
(dengan Ibu Marma, ibu yang punya homestay Anais)


Liburan itu dimulai dengan langsung pergi menuju alun-alun dan mencoba snorkel gear (untuk anak) yang kami beli di Bandung.



Kegiatan kami di hari pertama :
1. Menuju alun-alun, mencoba snorkel gear.
2. Main di alun-alun bersama anak-anak, warga lokal disana.
3. Makan baso seharga 5000

(ini yang membuat anak-anak disana tertarik dan akhirnya mengajak kami bermain)

(banyak permainan yang mirip-mirip tapi beda versi, 
sehingga kami pun belajar permainan versi anak-anak Karimun Jawa ;D)

Hari Kedua : Wisata Pulau 
1. Ke penangkaran Hiu. Aul, Ari, Nasrul berenang sama hiu.
2. Snorkling
3. Mengunjungi pulau-pulau


Hari Ketiga : Survei Untuk Kemping 

Di hari ini, kami hanya memutar-mutari daerah sekitar pelabuhan, alun-alun, dan menelusuri rumah-rumah penduduk. 
 (bisa dijadikan lokasi pemotretan BELAKANGKA. Wihiii)
 (nelayan rumput laut)

(ki-ka-belakang : Adit, Avi, Windy) 
(anak-anak mandi sore)
(anak Pak Bagus, Rajwa Kalpatika)

Perjalanan keliling-keliling kami akhirnya membuat kami menemukan rumah Pak Bagus (rumah yang kami tahu, rumah mertuanya, sedangkan rumah Pak Bagusnya kami baru tahu pada hari ketiga ini). Disana kami bertemu Awa, anak perempuan Pak Bagus yang berumur 3.5 tahun. Anaknya lucu dan ternyata pernah main film dengan Nugi. Film tentang Karimun Jawa, yang judulnya Mutiara di Balik Pesisir. Dalam film itu, Awa berperan sebagai anaknya Nugi. Saya langsung penasaran, ingin menonton film tersebut. 

Dari obrolan bersama Bu Siti (istri Pak Bagus), saya juga mendapatkan info mengenai tempat makan enak selain Bu Ester, yang menjual Tahu Campur, Es Campur, dan Mie Ayam dan lain-lain.

(es campur seharga 3000)
(tahu campur seharga 6000)

Hari Keempat : Kemping di Pantai Legon Lele
1. Ke pasar, beli ikan kerapu (4 ekor hanya 6000 saja)
2. Ke gone lele, buka tenda dan bakar ikan
3. Ke alun-alun, nonton pertunjukan dari sukarelawan yang tergabung dalam organisasi internasional.

Pantai ini terletak di pulau Karimun Jawa nya, tidak perlu menyebrang dengan menyewa kapal.Perjalanan menuju pantai ini seperti perjalanan dari Taman Hutan Raya, Bandung sampai Maribaya. Menanjak dan Menurun sampai berkeringat. Lumayan untuk olahraga pagi, setelah menjadi backpacker sehat yang kerjaannya makan terus.


 (lautnya udah keliatan, tapi perjalanan masih sekitar 1/4 jalan lagi)

(pertunjukan buat anak-anak di alun-alun)
Hari kelima : Saatnya Pulang!


Hari ini yang paling sedih. Sedih karena Awa nya sedih dan menangis saat mengantarkan kami menaiki Ferry. Liburan di Karimun Jawa, saya lebih terkesan dengan masyarakatnya yang sangat ramah dan hangat daripada wisata pulau yang memang asoi. Dan saya ingin kembali kesana untuk bertemu dengan Awa. :)

Ke Karimun Jawa, saya merasa seperti pulang kampung, bukan berlibur ke tempat asing.



Comments

Tau gitu ikuuuuuuut.... pengin banget ke Karimunjawa, pas ada teman ngajak kumpul di jepara, pas di kebun banyak tamu... hayuuuuu, kapan lagi atuh kita backpacker an ke Karimunjawa lagi... Mauuuuu bangeeet....

Popular posts from this blog

Mahasiswa

"Mahasiswa itu banyak bohongnya, bu"

Begitulah kira-kira yang dikatakan oleh seorang petinggi di kampus kepada ibu saya.
Yaa, mahasiswa memang banyak sekali akalnya. Mulai dari cara mendapatkan nilai bagus dengan "cara anak sma" banget, sampai-sampai ada yang melakukan hal yang dapat SANGAT merugikan orang-orang yang jujur.

Dan hal itu terjadi pada saya.
Sebenernya sih saya sudah tidak mau lagi membahas masalah ini. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya di blog curhat ini.
Waktu itu, saat Ujian Tengah Semester hari kedua (Teori-teori Politik), saya mendadak tidak enak badan. Awalnya hanya pusing dan pegel-pegel aja.
Kemudian berlanjut ke demam tinggi dan sampai pada kesimpulan kalo saya terkena CAMPAK.
Wow. sangat menyebalkan sekali.
Sakit itu datang tidak pada waktunya.
Tapi mau gimana lagi? Saya tidak bisa menolaknya, toh karena walaupun saya tidak mau terkena campak, saya akan tetap terkena itu kan?

Akhirnya karena merasa tidak kuat, …

Lupa Telah Bersuami

Kehidupan rumah tangga ini sepertinya akan sangat menyenangkan dan penuh tantangan. 
Kenapa? Karena saya menghabiskan setengah bulan di Yogyakarta, bersama suami, dan setengah bulan tanpa suami di Bandung.
***
Pertengahan sampai akhir Maret lalu, saya di rumah suami. Suatu hari, saya kedatangan tamu dari kampung sebelah, Keke Ode Naomi, yang adalah teman suami juga. Tepat ketika Keke datang, suami saya sedang pergi melatih merpati-merpati kesayangannya untuk terbang. Kami pun memutuskan untuk pergi ke tempat bakso favorit saya, Bakso Ronayan.
Saat menguyah bakso, sebenarnya saya sempat berpikir, "Hmmm, kayanya bisa sih dibungkus dan dibawa pulang baksonya. Eh, tapi nanti kemakan ngga ya?". Sayangnya, pemikiran itu hanya muncul sekali saja, lantas saat saya dan Keke asyik bercerita tentang hal-hal yang menarik bagi wanita, saya seketika lupa untuk membawa pulang bakso tersebut untuk suami.
Begitu tiba di rumah, dan suami sudah pulang, saya dengan wajah berseri cerita ke suam…

Pekerjaan Impian

Beberapa menit lalu tidak sengaja membaca sebuah tulisan dari temannya teman. Topik menarik dengan sebuah pertanyaan yang menyentil "What is your dream job?". Jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada saya beberapa tahun silam, mungkin akan sulit untuk menjawabnya. Banyak sekali yang saya minati, dan banyak juga yang saya inginkan. Saya ingin menjadi penulis, ingin juga menjadi fotografer, lalu juga ingin menjadi pemilik agen travel. Beberapa pekerjaan yang saya impikan secara serius salah satunya adalah keliling dunia menonton konser-konser musisi hebat dan mendokumentasikannya. Saya ingin menjadi fotografer panggung.Tahun demi tahun berlalu, kisah demi kisah terlewati. Ada pengalaman baru yang membuat mimpi tersebut menjadi berkembang. Berkembang ke arah tidak terlalu ngoyo alias saya pasrahkan mimpi tersebut dengan pemikiran, yang penting saya mengerjakan sesuatu yang memang saya senangi. Beruntung, di tahun 2013 awal, saya sempat bekerja paruh waktu sebagai reporter ku…