Skip to main content

Sindrom H-3

Pameran foto ukm kami, POTRET UNPAR sudah memasuki H minus 3.
Tidak ada firasat buruk mengenai pameran, terutama tempat pamerannya, Gedung Serba Guna.
Semua terasa lancar dan aman-aman saja. Mengingat beberapa hari yang lalu saya sudah kembali memastikan bahwa kami tetap bisa memakai GSG tersebut, tanpa ada gangguan lagi (sebelumnya acara kami sempat harus tergeser karena bentrok dengan acara Universitas).

Namun, ketika saya meminta kordiv logistik untuk memastikan lagi mengenai peminjaman alat-alat untuk hari-h, tiba-tiba saja sang kordiv tersebut, Ighe, kembali membawa berita buruk.
Petugas GSG, Pak Uun, tidak memiliki surat tembusan acara kami. Padahal saya sudah memberikan surat tembusan tersebut semenjak tahun 2008. Ya, firasat buruk itu pun masih belum datang.

Saya dan Ighe bergegas menuju kantor Pak Uun. Disana kami mencari surat tersebut, dan OH! Untunglah, akhirnya suratnya diketemukan. Saya kira masalahnya beres sampai disitu. Sampai kemudian Pak Uun bercerita bahwa beliau ditugaskan oleh petinggi-petinggi Universitas untuk mempersiapkan alat-alat untuk kebutuhan acara universitas yang akan berlangsung pada tanggal 27 Maret yang berarti 2 hari sesudah pameran kami selesai, sebelum hari libur tiba, yang berarti juga sebelum tanggal 26 Maret 2009 (libur nyepi). Wah, akhirnya firasat buruk dan kegelisahan pun segera memasuki jiwa saya.
Apabila petinggi-petinggi itu ingin acaranya dipersiapkan dari sebelum tanggal 26, tandanya mereka ingin mempersiapkan segala sesuatunya tanggal 25. Namun, saya masih saja mempunyai rasa optimis dalam jiwa ini, semua akan terselesaikan, dan acara kami tidak akan terganggu. OKE.

Namun, ternyata perasaan optmis saya harus berakhir disitu saja. Saya sedikit kaget saat mendengar Pak Uun berkata bahwa pihak-pihak petinggi tidak ingin bekerja di hari libur, dan mereka benar-benar tidak mau tahu, apakah ada yang masih memakai GSG atau tidak, yang penting acara mereka tetap berlangsung, dan semua alat-alat yang akan dipakai untuk tanggal 27 tersebut harus sudah siap sebelum hari libur! TITIK! Tanpa koma.

Wah, ada apa ini, apa yang harus kami lakukan agar acara kami tidak tergeser? Poster sudah disebarkan dimana-mana, undangan, dan juga spanduk sudah dipasang. Tidak mungkin kalau kami menunda acara ini lagi, tidak mungkin juga kami membatalkannya. Ini sudah H-3, heyyyyy.. Tolonglah, saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Begitulah bentuk kegelisahan saya dalam jiwa ini.

Kemudian Pak UUn pun mengajak kami pergi menghadap bapak kepala biro untuk menyelesaikan masalah ini.

Setelah mendengar inti permasalahannya, dan juga melihat surat izin pemakaian GSG kami yang dibandingkan juga dengan surat perintah dari petinggi-petinggi Universitas yang diberikan kepada pak Uun, bapak kepala biro yang bijaksana itu pun berkata kepada saya, ighe, dan juga sekretaris pameran kami, Idong, bahwa dia pun tidak bisa apa-apa. Perintah itu datang dari Universitas yang berarti disini tidak dapat dibantah. Dan apabila beliau harus memilih untuk membatalkan salah satu acara, beliau mengatakan akan membatalkan acara kami, karena acara Universitas memang lebih penting dibandingkan acara kami.

WOW! Saya ingin berteriak, saya ingin menangis, apa yang harus saya lakukan? Acara kami batal??? tidak mungkin! Saya tidak ingin itu terjadi.. Ini sudah 3 hari lagi, masa harus dibatalin? Kenapa mereka sekejam itu?? Kami sudah melalui segala persiapan, UTS saya pun sempat terbengkalai, dan mungkin begitu juga dengan yang lainnya, jadi kenapa harus digagalkann???

Bapak kepala biro itu pun dengan cepat memberikan solusi. Mungkin dia mendengar keresahan dalam jiwa saya yang memang pasti akan terlihat jelas dalam raut muka saya. Beliau mengusulkan agar kami secepatnya bertemu dengan petinggi yang memang sudah menyetujui acara kami, untuk menjelaskan semua permasalahannya. Namun kemudian, Idong meminta kepada beliau untuk memberikan alternatif lain yang tidak merugikan kami. Karena kami tahu, walaupun kami harus menghadap petinggi tersebut, kami tetap akan kalah, dan acara kami terancam GATOT, Gagal Total.
Akhirnya, dengan rasa belas kasihan, beliau pun memberikan alternatif lain. Bagaimana caranya agar acara kami tetap berjalan, dan permintaan dari petinggi-petinggi Universitas pun terpenuhi.

Alternatif itu pun kami terima, walaupun terlihat sangat jelas keraguan dari bapak kepala biro tersebut untuk memberikan kami alternatif seperti itu. Beliau tahu kami kesal, sehingga beliau khawatir akan terjadi dendam dari pihak kami yang menyebabkan kami akan berusaha menggagalkan acara universitas juga. Ya, ternyata beliau pun memang sedang dalam keadaan terjepit. Namun, kami pun memastikan, kami tidak akan seperti itu. Kami akan berusaha untuk mentaati janji kami, sehingga kami pun diminta untuk menulis surat pernyataan.

Akhirnya, persoalan kami pun beres. Meskipun saya yakin akan ada persoalan-persoalan lain menyangkut acara ini. Terutama saat saya akan membicarakan hal ini kepada panitia lain. Saya yakin mereka tidak akan terima perlakuan universitas.

Dan, ya ternyata benar..
Beberapa diantara kami yang rapat hari itu juga merasa emosi dan merasa tidak mau diam saja diperlakukan seperti ini. Mereka menuntut untuk diberikan kompensasi, karena dari awal kita sudah ada kontrak kerjanya. Bahkan, ada yang bilang kalau memang acara harus batal, pihak-pihak yang membatalkannya harus membuat surat resmi dan sebagainya.

Akhirnya saya memutuskan untuk tidak memakai emosi, namun memakai logika, hal yang memang sangat jarang saya lakukan disaat keadaan terjepit. Namun saya mencoba untuk melakukannya.

Saya menjelaskan kepada mereka semua, bahwa percuma saja kita menuntut seperti ini dan seperti itu. Kita akan tetap kalah, karena pihak lawan kita adalah Universitas. Sekeras apapun kita mempertahankan, kita harus memakai GSG sampai acara selesai, kita tidak akan bisa. Bagaimana kita mau minta kompensasi, apabila bapak yang menandatangani surat izin kami, yang saat itu sedang mengambil cuti, bahkan memerintahkan kepada pak Uun untuk membatalkan acara kami. Batal dari awal, hari senin.
Sudah sangat beruntung, kita diberikan kesempatan untuk memakai GSG dari hari senin sampai selasa. Jadi, percuma kalau kita menuntut yang lebih lagi. Karena kita pun tidak bisa apa-apa, karena kita masih menjadi mahasiswa unpar. Akhirnya setelah diberikan penjelasan, mereka pun menerima. Meskipun saya yakin, masih banyak juga yang tidak terima akan keputusan ini.

Ya, saya pun tidak bisa menerimanya.
Karena yang menyakitkan adalah kami sudah mengurus perizinan semenjak tahun 2008, jauh sebelum acara ini akan dilangsungkan. Bahkan acara kami sempat terancam gagal pada bulan januari, sehingga saya tidak dapat membayangkan, apa jadinya bila acara kami sekarang juga gagal?

Pelajaran untuk hari ini adalah lagi-lagi, tak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan. Pasti ada hambatan-hambatan untuk kita mendapatkan yang kita inginkan.
Tinggal bagaimana kita mengatasi hambatan tersebut dengan memakai logika dan akal sehat tanpa adanya emosi. Karena pasti ada jalan keluar dari setiap masalah. Saya akan mulai untuk selalu meyakini hal itu. :)

Terimakasih untuk pak Uun, Kepala Biro, dan Bapak Yanto yang membantu kami untuk memberikan solusi yang memang merupakan solusi terbaik (daripada acara kami batal). Terimakasih juga kepada pihak universitas yang sudah memberikan pelajaran yang sangat berarti ini untuk kami.


p.s : YESS!! Akhirnya saya berhasil menahan tangis yang sebenarnya sulit terbendung lagi.. Dan akhirnya logika bisa mengalahkan emosi... hehhee.. :)


#### Tidak ada maksud untuk menjelekkan pihak-pihak tertentu, cerita ini hanya bertujuan untuk membagi pengalaman saja. ####

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa

"Mahasiswa itu banyak bohongnya, bu"

Begitulah kira-kira yang dikatakan oleh seorang petinggi di kampus kepada ibu saya.
Yaa, mahasiswa memang banyak sekali akalnya. Mulai dari cara mendapatkan nilai bagus dengan "cara anak sma" banget, sampai-sampai ada yang melakukan hal yang dapat SANGAT merugikan orang-orang yang jujur.

Dan hal itu terjadi pada saya.
Sebenernya sih saya sudah tidak mau lagi membahas masalah ini. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya di blog curhat ini.
Waktu itu, saat Ujian Tengah Semester hari kedua (Teori-teori Politik), saya mendadak tidak enak badan. Awalnya hanya pusing dan pegel-pegel aja.
Kemudian berlanjut ke demam tinggi dan sampai pada kesimpulan kalo saya terkena CAMPAK.
Wow. sangat menyebalkan sekali.
Sakit itu datang tidak pada waktunya.
Tapi mau gimana lagi? Saya tidak bisa menolaknya, toh karena walaupun saya tidak mau terkena campak, saya akan tetap terkena itu kan?

Akhirnya karena merasa tidak kuat, …

Lupa Telah Bersuami

Kehidupan rumah tangga ini sepertinya akan sangat menyenangkan dan penuh tantangan. 
Kenapa? Karena saya menghabiskan setengah bulan di Yogyakarta, bersama suami, dan setengah bulan tanpa suami di Bandung.
***
Pertengahan sampai akhir Maret lalu, saya di rumah suami. Suatu hari, saya kedatangan tamu dari kampung sebelah, Keke Ode Naomi, yang adalah teman suami juga. Tepat ketika Keke datang, suami saya sedang pergi melatih merpati-merpati kesayangannya untuk terbang. Kami pun memutuskan untuk pergi ke tempat bakso favorit saya, Bakso Ronayan.
Saat menguyah bakso, sebenarnya saya sempat berpikir, "Hmmm, kayanya bisa sih dibungkus dan dibawa pulang baksonya. Eh, tapi nanti kemakan ngga ya?". Sayangnya, pemikiran itu hanya muncul sekali saja, lantas saat saya dan Keke asyik bercerita tentang hal-hal yang menarik bagi wanita, saya seketika lupa untuk membawa pulang bakso tersebut untuk suami.
Begitu tiba di rumah, dan suami sudah pulang, saya dengan wajah berseri cerita ke suam…

Pekerjaan Impian

Beberapa menit lalu tidak sengaja membaca sebuah tulisan dari temannya teman. Topik menarik dengan sebuah pertanyaan yang menyentil "What is your dream job?". Jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada saya beberapa tahun silam, mungkin akan sulit untuk menjawabnya. Banyak sekali yang saya minati, dan banyak juga yang saya inginkan. Saya ingin menjadi penulis, ingin juga menjadi fotografer, lalu juga ingin menjadi pemilik agen travel. Beberapa pekerjaan yang saya impikan secara serius salah satunya adalah keliling dunia menonton konser-konser musisi hebat dan mendokumentasikannya. Saya ingin menjadi fotografer panggung.Tahun demi tahun berlalu, kisah demi kisah terlewati. Ada pengalaman baru yang membuat mimpi tersebut menjadi berkembang. Berkembang ke arah tidak terlalu ngoyo alias saya pasrahkan mimpi tersebut dengan pemikiran, yang penting saya mengerjakan sesuatu yang memang saya senangi. Beruntung, di tahun 2013 awal, saya sempat bekerja paruh waktu sebagai reporter ku…