Skip to main content

Because Of You

Beberapa hari kebelakang, saya mengalami cukup banyak kejadian yang membuat sebuah perubahan dalam diri saya.


Semua berawal dari pertemuan saya dengan Mas Firdaus Fadlil.....


Photo by : Astrid Reniza

Beliau adalah seorang fotografer yang saat ini bekerja di sebuah media cetak (majalah remaja) sebagai redaktur foto. Saya bertemu beliau dalam acara yang di selenggarakan oleh Papyrus Photo, yaitu Photoclinic mengenai stage photography. Dari awal, saya memang tertarik dengan stage photography dibandingkan dengan modelling, arsitektural, dan sebagainya.
Kemudian, saat saya bertemu dengan mas Daus (begitu beliau biasa disebut), ketertarikan saya pada stage photography pun semakin bertambah.

Didalam sesi diskusinya, beliau menjelaskan mengenai teknis memotret panggung dan bla bla bla. Kemudian beliau juga menyarankan kami agar kami dapat membuat foto yang berbeda dengan orang lain. Sehingga di acara selanjutnya, sesi hunting, saya pun berangkat dengan bermodalkan prinsip beda tersebut untuk diterapkan dalam konser musik yang juga menjadi rangkaian dari acara tersebut.

Sedikit cerita saja, disana saya bertemu kembali (karena kemarinnya juga bertemu) dengan salah satu personil 4 Peniti, yang saat itu sebenarnya saya tidak akan ingat kalau dia tidak tersenyum dan menyapa saya duluan sebari berkata "wah, disini juga? yang kemaren kan?". Ternyata pemain biola yang akhirnya saya ketahui namanya adalah Ammy tersebut juga akan bermain dalam konser malam itu. Namun dia tidak bermain dengan 4 peniti, saat itu dia menjadi 1 peniti.

Kembali ke cerita hunting foto stage.

Di awal acara, saya masih bingung harus memotret apa. Karena adanya keterbatasan lensa (saya memakai 18-55mm) dan juga kemalasan saya untuk beranjak dari kursi yang memang telah disediakan penyelenggara. Saya tidak begitu nyaman pada awalnya, karena semua penonton disana pun duduk di kursinya masing-masing. Tidak ada yang berdiri, dan panggungnya pun dapat dikatakan cukup pendek, sehingga kalaupun kami harus maju menuju bibir panggung untuk memotret, kami harus berlutut dan sebagainya agar kami tidak menghalangi penonton yang lain. Apalagi saat awal-awal, masih sedikit fotografer yang mendekat ke panggung, begitu juga teman-teman saya.

Namun, saat suasana sudah dipanaskan dengan sebuah band bernama Fonticello yang berasal dari Yogyakarta, fotografer-fotografer pun semakin banyak yang mendekati bibir panggung untuk mendapatkan foto-foto band yang terdiri dari 5 personil dan membawakan lagu-lagu Rock tersebut. Akhirnya, saya pun tidak mau ketinggalan. Saya segera menguatkan mental saya dan segera beranjak menuju bibir panggung untuk memotret band tersebut dari dekat. Dan, yaa usaha saya tidak percuma karena saya mendapatkan foto yang saya inginkan. Foto yang (sudah saya usahakan) berbeda, foto yang memang diminta oleh mas Daus dan Alhamdulillah juga sangat disukai mas Daus.

Foto ini di "terima" oleh mas Daus. Beliau berkomentar, ini foto terbaik dari 4 foto yang saya berikan. Ada beberapa poin plus dalam foto ini, yaitu framing, ketajaman, dan juga garis dari alat penggesek tersebut. Beliau juga menambahkan, apabila saya lebih sabar lagi, saya bisa mendapatkan 1 poin plus lagi dari ekspresi yang dikeluarkan oleh personil Fonticello ini.

Foto ini juga diterima oleh mas Daus. Walaupun fotonya dapat dikatakan biasa saja, namun beliau bilang foto ini bisa masuk dalam kategori dokumentasi foto panggung. Karena adanya informasi yang juga tertera pada layar disamping pemain gitar PAS band ini memainkan gitarnya. Yang lebih membuat saya semangat adalah, saat mas Daus berkata, 2 foto diatas saya ini bisa bernilai sampai dengan 3.5 juta. WOW! ahahhaa, saya benar-benar sangat termotivasi dengan komentar-komentar beliau. Rasanya kepercayaan diri saya yang sempat terkubur dalam-dalam di jiwa ini kembali muncul dan JENG JENG berdiri tegak penuh semangat.

Setelah sesi kurasi foto tersebut lah akhirnya saya menemukan apa yang benar-benar saya inginkan.
Apa yang saya suka.
Apa yang ingin saya lakukan di masa mendatang.
Dan saya juga menemukan impian terbesar saya yang (semoga saja) tidak akan berubah.
Ya, saya ingin seperti mas Firdaus Fadlil.
Saya ingin menjadi redaktur foto.
Dimulai dari bekerja sebagai fotografer panggung (freelance) dan dilanjutkan dengan duduk disebuah ruangan pribadi sebagai redaktur foto dan mencapai puncaknya dengan perjalanan keliling dunia saya, sebagai Stage Photographer tingkat Internasional.

Haha! Amin. Mimpi yang cukup tinggi memang. Dan akan sangat sakit pastinya apabila saya terjatuh. Karena saya sudah memulai untuk terbang yang sangat tinggi.
Namun, apapun yang terjadi, kalau memang sudah jalannya, toh semuanya akan berjalan lancar-lancar saja.
Namun jika bukan jalannya, setidaknya saya sudah pernah mencoba.
Ya, jangan bilang tidak sebelum engkau mencoba.

Sungguh benar-benar pengalaman luar biasa yang saya dapatkan hari itu. Saya tidak pernah menyangka akan ada seorang fotografer yang benar-benar membuat motivasi saya naik tinggi. Sehingga saya pun semakin semangat untuk berkarya.

He's so amazing!

Terimakasih ya mas Firdaus Fadlil atas segala wejangan dan ilmunya. Semoga saya bisa menjadi seperti mas Daus.

Amin!




---------------------------------------------------------

#Cerita tambahan#

Di malam itu juga (saat sesi hunting), saya pun terpesona dengan seorang lelaki yang sangat terlihat berkarisma dengan biola yang dimainkannya. Dia adalah Ammy 4Peniti. Saya sudah 3 kali melihat dia tampil di kampus saya, namun baru kali ini saya menyadari betapa menakjubkannya dia saat memainkan biolanya. Membuat saya terbius sehingga tak bisa memalingkan mata dari sosoknya yang sedang mengeluarkan suara indah dari biolanya tersebut (hahaha! lebay..).



Sehingga malam itu, Kamis / 26 Maret 2009, semua keresahan dan keletihan saya di hari-hari sebelumnya pun terbayarkan dengan kepuasaan dan kebahagiaan yang saya dapat malam itu.
Semua itu berkat 2 sosok lelaki yang sangat menakjubkan.
2 lelaki yang membuat semuanya kembali berwarna.
2 lelaki yang membuat saya jatuh cinta, bukan karena fisiknya, namun karena karismanya.
Ya, karena mereka, saya kembali mempunyai semangat dan impian baru.

:)

Terimakasih mas Daus, ka Ammy.

You made my day!

I adore you so much!

:)

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa

"Mahasiswa itu banyak bohongnya, bu"

Begitulah kira-kira yang dikatakan oleh seorang petinggi di kampus kepada ibu saya.
Yaa, mahasiswa memang banyak sekali akalnya. Mulai dari cara mendapatkan nilai bagus dengan "cara anak sma" banget, sampai-sampai ada yang melakukan hal yang dapat SANGAT merugikan orang-orang yang jujur.

Dan hal itu terjadi pada saya.
Sebenernya sih saya sudah tidak mau lagi membahas masalah ini. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya di blog curhat ini.
Waktu itu, saat Ujian Tengah Semester hari kedua (Teori-teori Politik), saya mendadak tidak enak badan. Awalnya hanya pusing dan pegel-pegel aja.
Kemudian berlanjut ke demam tinggi dan sampai pada kesimpulan kalo saya terkena CAMPAK.
Wow. sangat menyebalkan sekali.
Sakit itu datang tidak pada waktunya.
Tapi mau gimana lagi? Saya tidak bisa menolaknya, toh karena walaupun saya tidak mau terkena campak, saya akan tetap terkena itu kan?

Akhirnya karena merasa tidak kuat, …

Lupa Telah Bersuami

Kehidupan rumah tangga ini sepertinya akan sangat menyenangkan dan penuh tantangan. 
Kenapa? Karena saya menghabiskan setengah bulan di Yogyakarta, bersama suami, dan setengah bulan tanpa suami di Bandung.
***
Pertengahan sampai akhir Maret lalu, saya di rumah suami. Suatu hari, saya kedatangan tamu dari kampung sebelah, Keke Ode Naomi, yang adalah teman suami juga. Tepat ketika Keke datang, suami saya sedang pergi melatih merpati-merpati kesayangannya untuk terbang. Kami pun memutuskan untuk pergi ke tempat bakso favorit saya, Bakso Ronayan.
Saat menguyah bakso, sebenarnya saya sempat berpikir, "Hmmm, kayanya bisa sih dibungkus dan dibawa pulang baksonya. Eh, tapi nanti kemakan ngga ya?". Sayangnya, pemikiran itu hanya muncul sekali saja, lantas saat saya dan Keke asyik bercerita tentang hal-hal yang menarik bagi wanita, saya seketika lupa untuk membawa pulang bakso tersebut untuk suami.
Begitu tiba di rumah, dan suami sudah pulang, saya dengan wajah berseri cerita ke suam…

Pekerjaan Impian

Beberapa menit lalu tidak sengaja membaca sebuah tulisan dari temannya teman. Topik menarik dengan sebuah pertanyaan yang menyentil "What is your dream job?". Jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada saya beberapa tahun silam, mungkin akan sulit untuk menjawabnya. Banyak sekali yang saya minati, dan banyak juga yang saya inginkan. Saya ingin menjadi penulis, ingin juga menjadi fotografer, lalu juga ingin menjadi pemilik agen travel. Beberapa pekerjaan yang saya impikan secara serius salah satunya adalah keliling dunia menonton konser-konser musisi hebat dan mendokumentasikannya. Saya ingin menjadi fotografer panggung.Tahun demi tahun berlalu, kisah demi kisah terlewati. Ada pengalaman baru yang membuat mimpi tersebut menjadi berkembang. Berkembang ke arah tidak terlalu ngoyo alias saya pasrahkan mimpi tersebut dengan pemikiran, yang penting saya mengerjakan sesuatu yang memang saya senangi. Beruntung, di tahun 2013 awal, saya sempat bekerja paruh waktu sebagai reporter ku…