Skip to main content

Untuk anak-anak diseluruh dunia

Terangnya hidup di dunia
Karena sinar kasihmu papa
Biar duka menyelimuti kita
Kau selalu hadirkan bahagia

Apapun keadaanmu
Bagiku kau bagaikan raja
Pelindungku dari semua badai
Siang malam kau hangatkan aku

Bila Tuhan ijinkan aku bicara
Ku bersaksi tak akan pernah menyesal
Punya dia yang terhebat
Hanyalah dia

Bila Tuhan ijinkan aku meminta
Hanya ada satu pintaku yang suci
Ku bernafas hanya untuk dia bahagia..

Dinyanyikan kembali oleh : Kiki Idola Cilik
Lagu/Lirik : Melly Goeslaw



Iba.
Itu yang saya rasakan saat saya mendengar kisah ini.

Karena kesal, seorang anak pernah meminta kepada Tuhannya, untuk diberikan ayah yang lain.

Beliau memang bukan sosok yang bisa sangat menyenangkan kepada semua orang.
Beliau cenderung memiliki image yang sangat galak, bahkan tidak sedikit orang yang takut padanya, termasuk anak-anak kandungnya sendiri.
Ketegasan beliau dalam bersikap menjadikan anak-anaknya sedikit segan padanya.
Sehingga komunikasi yang berjalan dalam keluarga itu pun tidak begitu lancar.

Ketika keluarga tersebut dihadapkan pada kenyataan, sang ayah merasa jenuh dan memutuskan untuk berhenti bekerja, spontan anak beserta istri beliaupun menyatakan bahwa mereka tidak setuju.

Berbagai upaya dilakukan agar beliau dapat memikirkan ulang keputusannya, namun beliau tetap pada pendiriannya untuk sesegera mungkin melepaskan jabatan tersebut. Entah angin apa yang membuat beliau bersikukuh untuk tetap mempertahankan keputusannya, padahal beliau sedang berada pada posisi yang cukup tinggi dalam perjalanan karirnya.
Keputusan itu pun tetap beliau jalankan. Namun beliau juga tidak lupa untuk menenangkan keluarganya, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa apa yang beliau dapatkan sekarang, akan cukup sampai semua anaknya menyelesaikan pendidikan mereka di Universitas.

Tahun demi tahun berlalu..
Tidak ada perubahan yang signifikan pada tahun-tahun pertama setelah keputusan tersebut terlaksana.
Keadaan keluarga tersebut masih sama seperti dulu.
Semua kebutuhan pun masih dapat terpenuhi.
Ya, janji sang ayah pun memang masih dapat dipegang.

Tidak terasa 4 tahun sudah keluarga tersebut menjalani kehidupan yang tidak biasa ini.
Ya, bagaimana bisa disebut biasa apabila tidak ada penghasilan yang pasti yang didapat oleh keluarga ini.
Sang ayah memang tidak sepenuhnya tidak bekerja. Beliau juga masih menjalankan beberapa bisnis dan melakukan usaha-usaha untuk tetap menghidupi keluarganya.
Namun sangat jelas bahwa kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi lebih dari 4 tahun lalu dimana sang ayah mempunyai penghasilan yang tetap yang dapat mencukupi keseluruhan dari kebutuhan anak-anaknya.

Tak ada lagi baju baru di hari lebaran. Tak ada lagi jalan-jalan ke luar negeri setiap liburan. Tak ada lagi kesenangan-kesenangan duniawi yang keluarga itu dapatkan. Ya, paling tidak, tidak sama seperti dulu.

Keluarga manapun, saya yakin, pasti lebih memilih keadaan keluarga ini seperti lebih dari 4 tahun yang lalu. Keadaan sebelum tercetuskan keputusan itu.
Begitu juga dengan anggota keluarga sang ayah ini. Ya, semua orang ingin kehidupannya mendekati sempurna bukan? Dimana semua kebutuhannya pasti dapat terpenuhi.

Dengan perubahan yang mereka alami ini, semakin banyak juga masalah-masalah yang timbul dalam keluarga ini. Mungkin memang bukan masalah yang sangat besar dan bukan juga masalah yang secara langsung mereka hadapi.
Maksud saya disini adalah, masalah-masalah ini muncul dari batin masing-masing anggota keluarga tersebut.
Dimana semakin berkurangnya sinar-sinar kebahagiaan yang tampak dari wajah sang ayah, sang ibu, dan juga anak-anaknya. Semakin kurangnya komunikasi yang terjalin diantara masing-masing anggota keluarga ini.

Tak jarang sang ibu mengeluhkan kepada anak-anaknya mengenai keadaan ini. Tak jarang juga sebenarnya sang anak mengeluhkan keadaan ini kepada tembok-tembok di kamarnya. Beberapa kali juga saya dengar sang anak menangis diam-diam di dalam kamarnya, menyesali apa yang telah terjadi, dan menginginkan keadaan yang seperti dulu itu kembali, walaupun dia tahu, hal tersebut sangatlah tidak mungkin untuk terjadi.

Keadaan semakin memburuk.
Ya, begitulah yang saya lihat.

Namun, apabila saya lihat kembali, ternyata keadaan tidak seburuk itu.
Sesusah apapun keluarga tersebut, sang ayah selalu dapat memberikan uang saku kepada anak-anaknya.
Sedikit apapun penghasilan keluarga tersebut, sang ayah selalu dapat mengusahakan biaya untuk melanjutkan pendidikan anaknya.
Setidak bahagia apapun keluarga tersebut, sang ayah tetap berusaha untuk memberikan setitik kebahagiaan untuk anak-anak dan istrinya dengan memberikan semangat-semangat yang optimis, bahwa kita semua bisa keluar dari permasalahan ini.
Kita semua, apabila kita kompak dalam menghadapinya, pasti bisa menemukan jalan keluarnya.
Begitu janji yang diberikan sang ayah kepada istri dan anak-anak tercintanya.

Dan saat ini, kabarnya sang ayah sedang mencoba untuk mengembalikan sinar terang kepada keluarga tersebut. Ada sesuatu hal yang telah dibuktikan oleh sang ayah kepada keluarganya. Saya tidak tahu apa itu, hanya keluarga itu lah yang mengetahui dan memahaminya.


Tapi ada yang benar-benar saya pahami dari kisah ini, yaitu,
Seburuk apapun keadaan ayahmu, tetaplah sadar, bahwa beliau adalah ayahmu. Jangan sesekali kalian meminta ayah yang lain kepada Tuhanmu. Bantu beliau, semangati beliau agar dapat terus menjalani kehidupan ini dengan senyuman tulusnya.
Buktikan pada beliau, kalau kita adalah anak-anak yang penuh tanggung jawab yang akan menyelesaikan pendidikan kita semaksimal mungkin agar jerih payah beliau dalam menyekolahkan kita tidak sia-sia.
Berhenti menyalahkan ayah atau ibu atas segala yang terjadi dalam keluarga kalian.
Karena, walau bagaimanapun keadaan mereka, mereka akan terus berupaya untuk membahagiakan kita, anak-anaknya tercinta.
Bahkan mereka rela untuk tidak makan, dan memberikan makanannya untuk anak-anaknya.
Mereka rela melakukan apa saja demi kita.

Lantas, apa yang kita balas untuk mereka?
Apa yang telah kita berikan untuk mereka?

Hanya diri kita sendiri lah yang tahu jawaban-jawabannya..

Sayangilah ayah dan ibumu.
Bersyukurlah kalian yang masih memiliki orang tua yang lengkap.
Dan jangan bersedih bagi kalian yang sudah ditinggalkan oleh salah satu dari mereka.

Bersyukur juga lah kalian yang masih diberikan rezeki yang berlimpah untuk keluargamu.
Dan juga janganlah berkecil hati bagi kalian yang tidak diberikan rezeki yang lebih seperti teman-temanmu.
Yakinilah dalam hidup kita, bahwa materi bukan segalanya.

Tetaplah tersenyum, walau apapun yang terjadi..
Nana

Comments

dheaditya's said…
keluarga itu masih sangat beruntung memiliki sosok ayah didalamnya yang bisa mengayomi dan memberi harapan meski belum nyata hingga saat ini..

tolong sampaikan pada mereka, na..
tetaplah bersyukur.

:D

jangan lupa senyum gitu na, bilang..
hehe..
iya dhe, nanti aku sampein...

:)
dheaditya's said…
huahahahha..
nana, seneng ya punya teman dengan pengalaman yang beragam..

harusnya nana udah bisa dewasa ya.. tapi koq...

:P
ahhh, dhea blm tau aja ini dalemnya gimanaaa..
ahauahahhahahaa...

saya mulai ngikutin kmu dhe,
kepribadian ganda..
ahauahahhaa
dheaditya's said…
wahh,parahh.. saya di judge kepribadian ganda..

teman macam apa ini orang?
ahh cukup tau aja lah na..
hahahhaa...
kan kamu sendiri yg bilang ke rossa waktu ituuu...
ahahhahaha...

:D
dheaditya's said…
hanya aku dan rosa yang mengerti.

*btw rosa itu 's'-nya satu,na..
klo 's'nya dua mah penyanyi..
:P

Popular posts from this blog

Mahasiswa

"Mahasiswa itu banyak bohongnya, bu"

Begitulah kira-kira yang dikatakan oleh seorang petinggi di kampus kepada ibu saya.
Yaa, mahasiswa memang banyak sekali akalnya. Mulai dari cara mendapatkan nilai bagus dengan "cara anak sma" banget, sampai-sampai ada yang melakukan hal yang dapat SANGAT merugikan orang-orang yang jujur.

Dan hal itu terjadi pada saya.
Sebenernya sih saya sudah tidak mau lagi membahas masalah ini. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya di blog curhat ini.
Waktu itu, saat Ujian Tengah Semester hari kedua (Teori-teori Politik), saya mendadak tidak enak badan. Awalnya hanya pusing dan pegel-pegel aja.
Kemudian berlanjut ke demam tinggi dan sampai pada kesimpulan kalo saya terkena CAMPAK.
Wow. sangat menyebalkan sekali.
Sakit itu datang tidak pada waktunya.
Tapi mau gimana lagi? Saya tidak bisa menolaknya, toh karena walaupun saya tidak mau terkena campak, saya akan tetap terkena itu kan?

Akhirnya karena merasa tidak kuat, …

Lupa Telah Bersuami

Kehidupan rumah tangga ini sepertinya akan sangat menyenangkan dan penuh tantangan. 
Kenapa? Karena saya menghabiskan setengah bulan di Yogyakarta, bersama suami, dan setengah bulan tanpa suami di Bandung.
***
Pertengahan sampai akhir Maret lalu, saya di rumah suami. Suatu hari, saya kedatangan tamu dari kampung sebelah, Keke Ode Naomi, yang adalah teman suami juga. Tepat ketika Keke datang, suami saya sedang pergi melatih merpati-merpati kesayangannya untuk terbang. Kami pun memutuskan untuk pergi ke tempat bakso favorit saya, Bakso Ronayan.
Saat menguyah bakso, sebenarnya saya sempat berpikir, "Hmmm, kayanya bisa sih dibungkus dan dibawa pulang baksonya. Eh, tapi nanti kemakan ngga ya?". Sayangnya, pemikiran itu hanya muncul sekali saja, lantas saat saya dan Keke asyik bercerita tentang hal-hal yang menarik bagi wanita, saya seketika lupa untuk membawa pulang bakso tersebut untuk suami.
Begitu tiba di rumah, dan suami sudah pulang, saya dengan wajah berseri cerita ke suam…

Pekerjaan Impian

Beberapa menit lalu tidak sengaja membaca sebuah tulisan dari temannya teman. Topik menarik dengan sebuah pertanyaan yang menyentil "What is your dream job?". Jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada saya beberapa tahun silam, mungkin akan sulit untuk menjawabnya. Banyak sekali yang saya minati, dan banyak juga yang saya inginkan. Saya ingin menjadi penulis, ingin juga menjadi fotografer, lalu juga ingin menjadi pemilik agen travel. Beberapa pekerjaan yang saya impikan secara serius salah satunya adalah keliling dunia menonton konser-konser musisi hebat dan mendokumentasikannya. Saya ingin menjadi fotografer panggung.Tahun demi tahun berlalu, kisah demi kisah terlewati. Ada pengalaman baru yang membuat mimpi tersebut menjadi berkembang. Berkembang ke arah tidak terlalu ngoyo alias saya pasrahkan mimpi tersebut dengan pemikiran, yang penting saya mengerjakan sesuatu yang memang saya senangi. Beruntung, di tahun 2013 awal, saya sempat bekerja paruh waktu sebagai reporter ku…