Skip to main content

Mahasiswa

"Mahasiswa itu banyak bohongnya, bu"

Begitulah kira-kira yang dikatakan oleh seorang petinggi di kampus kepada ibu saya.
Yaa, mahasiswa memang banyak sekali akalnya. Mulai dari cara mendapatkan nilai bagus dengan "cara anak sma" banget, sampai-sampai ada yang melakukan hal yang dapat SANGAT merugikan orang-orang yang jujur.

Dan hal itu terjadi pada saya.
Sebenernya sih saya sudah tidak mau lagi membahas masalah ini. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya di blog curhat ini.
Waktu itu, saat Ujian Tengah Semester hari kedua (Teori-teori Politik), saya mendadak tidak enak badan. Awalnya hanya pusing dan pegel-pegel aja.
Kemudian berlanjut ke demam tinggi dan sampai pada kesimpulan kalo saya terkena CAMPAK.
Wow. sangat menyebalkan sekali.
Sakit itu datang tidak pada waktunya.
Tapi mau gimana lagi? Saya tidak bisa menolaknya, toh karena walaupun saya tidak mau terkena campak, saya akan tetap terkena itu kan?

Akhirnya karena merasa tidak kuat, dan tidak mau menularkan campak ini kepada teman-teman saya, saya memutuskan untuk tidak ikut ujian. Dan berharap untuk diperbolehkan untuk ujian susulan.
Kemudian, ibu saya pun segera menelpon fakultas. Dan jawaban dari mereka sangatt laaaahh membangun harapan-harapan saya akan ujian susulan. Ya, kata mereka boleh ikut ujian susulan, tinggal buat surat dokter aja, trus surat permohonan.

Well well well..
Akhirnya saya pun sempat beristirahat dengan perasaan yang sedikit tenang..
Keesokan harinya pun, karena saya merasa belum terlalu sehat, dan bintik-bintik merah masih memenuhi badan saya, diputuskanlah saya istirahat dulu 1 hari lagi.
Dalam pikiran saya, toh nanti bisa ikut ujian susulan.


Tapi ternyata, setelah semua di urus.
Kekecewaan menghampiri saya.
Ya, bagaimana tidak? saya TIDAK DIIZINKAN untuk mengikuti ujian susulan!
AHH! SIAL!
Saya sangat kecewa sekali saat mengetahui hal itu.
Tapi, ibu saya tetap membesarkan hati saya.
Beliaupun segera membuat janji dengan Petinggi fakultas untuk membicarakan masalah menyebalkan ini.

Namun tetap saja, yg keluar hanyalah hal yang sangat mengecewakan.
Saya tidak diizinkan untuk ujian susulan. Karena, menurut petinggi itu, banyak mahasiswa yang suka berbohong. Banyak yang membuat surat dokter PALSU agar diperbolehkan ikut ujian susulan. Sehingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk MEMUKUL RATA semuanya. Sehingga saya yang memang benar-benar sakit pun terkena imbasnya.

Ini sungguh tidak adil..
Saya ingin marah, tapi kepada siapa?
Kepada Tuhan yang memberikan penyakit itu pada saya?
Saya rasa tidak, karena akhirnya saya menyadari kalau ini adalah teguran dari Nya, agar saya bisa memanage apa yg harus saya lakukan dan tidak saat menjelang Ujian.
Lalu siapa?

Ya, saya tidak bisa marah ke siapa-siapa.
Sekarang sih saya masih mencoba untuk mengambil hikmah dari semua permasalahan ini.
Walaupun saya masih suka tiba-tiba sedih saat melihat IP teman-teman saya yang sudah mencapai 3. Sedangkan saya?
Sudah 4 semester yang saya lalui, tapi saya belum pernah mendapatkan IP mencapai 3.

Haha, apalagi kalo teringat tentang cara mendapatkan IP dengan cara yg tidak jujur, alias MENCONTEK yang dilakukan oleh sangat banyak mahasiswa di perguruan tinggi. Saya hanya bisa tertawa miris.

Hey kaliaaannnn, sampai kapan kalian mau hidup sebagai seorang PEMBOHONG??
Kalo sekarang saja kalian sudah belajar untuk membohong, gimana besarnya nanti??
Katanya kalian ingin jadi pemimpin, kalo memang begitu apa jadinya negara kita nanti??
Dipimpin oleh seorang pembohong??
Waw. sangat menyedihkan sekali yaa kita ini..

Belajarlah menerima segala konsekuensi dari apa yang kalian kerjakan..
Kalo kalian telat ujian karena terlambat bangun, ya udahh terima ajaa. Jangan malah nyari-nyari akal buat bikin SURAT DOKTER PALSU!
Kalo kalian gag belajar sewaktu UTS, dan akhirnya kalian gag bisa ngerjain ujian itu, ya udah TERIMA ajaaa, jangan malah nyontek kesana sinii..

Kalo kalian aja tidak menghargai diri kalian sendiri, siapa yang akan menghargai kalian?

Berbohong tidak membuat keadaan menjadi lebih baik bung!

GROW UP!

Comments

dheaditya's said…
wah na,,
saya hanya bisa bilang..
pembohong-pembohong itu akan selalu ada.
tinggal gimana caranya kita survive di lingkungan kyk gini aja sih, yg mesti kita pikirin.

konsekuensi mereka atas perbuatan mereka pun, pastinya, mereka yg bakal alamin sendiri. cuman balik lagi, kita lah yg harus berjuta-juta hati-hati jangan sampai kita dirugiin sama mereka.

ayo berjuang!
kita pasti bisaa!

Popular posts from this blog

Lupa Telah Bersuami

Kehidupan rumah tangga ini sepertinya akan sangat menyenangkan dan penuh tantangan. 
Kenapa? Karena saya menghabiskan setengah bulan di Yogyakarta, bersama suami, dan setengah bulan tanpa suami di Bandung.
***
Pertengahan sampai akhir Maret lalu, saya di rumah suami. Suatu hari, saya kedatangan tamu dari kampung sebelah, Keke Ode Naomi, yang adalah teman suami juga. Tepat ketika Keke datang, suami saya sedang pergi melatih merpati-merpati kesayangannya untuk terbang. Kami pun memutuskan untuk pergi ke tempat bakso favorit saya, Bakso Ronayan.
Saat menguyah bakso, sebenarnya saya sempat berpikir, "Hmmm, kayanya bisa sih dibungkus dan dibawa pulang baksonya. Eh, tapi nanti kemakan ngga ya?". Sayangnya, pemikiran itu hanya muncul sekali saja, lantas saat saya dan Keke asyik bercerita tentang hal-hal yang menarik bagi wanita, saya seketika lupa untuk membawa pulang bakso tersebut untuk suami.
Begitu tiba di rumah, dan suami sudah pulang, saya dengan wajah berseri cerita ke suam…

Pekerjaan Impian

Beberapa menit lalu tidak sengaja membaca sebuah tulisan dari temannya teman. Topik menarik dengan sebuah pertanyaan yang menyentil "What is your dream job?". Jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada saya beberapa tahun silam, mungkin akan sulit untuk menjawabnya. Banyak sekali yang saya minati, dan banyak juga yang saya inginkan. Saya ingin menjadi penulis, ingin juga menjadi fotografer, lalu juga ingin menjadi pemilik agen travel. Beberapa pekerjaan yang saya impikan secara serius salah satunya adalah keliling dunia menonton konser-konser musisi hebat dan mendokumentasikannya. Saya ingin menjadi fotografer panggung.Tahun demi tahun berlalu, kisah demi kisah terlewati. Ada pengalaman baru yang membuat mimpi tersebut menjadi berkembang. Berkembang ke arah tidak terlalu ngoyo alias saya pasrahkan mimpi tersebut dengan pemikiran, yang penting saya mengerjakan sesuatu yang memang saya senangi. Beruntung, di tahun 2013 awal, saya sempat bekerja paruh waktu sebagai reporter ku…