Skip to main content

Posts

Mereka bilang "tak kenal maka tak sayang". Salah satu pepatah yang mendorong saya untuk lebih dekat mengenali seseorang. Setidaknya begitulah saya mendefinisikan pepatah tersebut. Semakin dekat dengan seseorang, maka kamu akan semakin mengenal dia. Lantas bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Semakin mengenal seseorang namun tidak merasa semakin dekat, melainkan jauh. Ada halangan yang tak terlihat, hambatan untuk melakukan kompromi. Apakah bisa kompromi dilakukan tanpa komunikasi?

Si Pencemas

Pikiran itu menari-nari dikepalanya. Belum tentu apa yang dipikirkannya itu benar akan terjadi. Namun ia tetap saja menyimpan keresahan dalam hatinya.  Sebagian teman menyebutnya si pencemas, yang selalu mencemaskan hal-hal yang belum tentu akan terjadi. Seseorang yang sudah memikirkan tahapan ke 5, 6, 7 , 8 dan selanjutnya sebelum melaksanakan tahapan ke 1, 2 , 3, dan seterusnya. Orang yang sangat mudah membuat sesuatu hal menjadi sangat rumit. Seseorang yang selalu dipermainkan oleh pikirannya sendiri. Dia pernah bercerita kepadaku, dia ingin teriak sekencang-kencangnya. Lantas, berteriaklah, kukatakan padanya. Namun dia hanya terdiam. Beberapa menit setelah itu, dia berkata padaku, "aku ingin pergi". "lalu pergilah" jawabku. Lagi-lagi ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri, hanya diam terpaku dengan mata kosong memandang rumput yang basah.  Lantas apa mau mu? Sering aku bertanya begitu, karena muak dengan segala yang ia kemukakan.  Dia terdiam,...

Kompetisi Suara

Kegaduhan terdengar di ujung jalan itu. Ada sekelompok orang yang sedang berinteraksi. Ya terlihat seperti itu. Saling berhadapan mereka seolah sedang berkompetisi dalam mengeluarkan suaranya. Berlomba-lomba untuk paling didengar. Percuma, tidak akan ada kata yang jelas terdengar. Hanya menghabiskan energi saja. Sore pun menjelang, mereka masih belum berhenti meneriaki orang yang ada di hadapannya. Entah apa yang sedang mereka perdebatkan. Yang terlihat hanyalah seorang anak kecil yang ketakutan melihat mereka semua, duduk terdiam dengan pandangan menghadap kebawah. Kaki dilipatnya, kepala ingin dibenamkannya. Tidak bisa, seorang bapak menariknya dengan kasar. Malam menjelang, mereka belum berhenti. Entah apa yang mereka pikirkan.

Terbang

Terbanglah.. Terbang bebas seperti burung.. Terbanglah.. Hinggap ke setiap dahan pohon yang kau lewati.. Terbanglah.. Pergi tanpa batasan.. Terbanglah.. Buatlah hatimu senang.. Kembalilah.. Ketika letih telah kau rasa..

aku seperti

A: Aku ini seperti pensil warna, seperti namanya, terdiri dari berbagai warna, tapi juga harus dipakai dengan hati-hati, kalau tidak aku bisa patah. B: Kalau aku, mungkin penghapus. Biar aku bisa menghapus luka orang di masa lalu.
Aku merasa seperti berbicara dengan patung. Atau mungkin lebih cocok kusebut sebagai boneka, karena sosokmu yang lucu dan terkadang menggemaskan. Begitu banyak boneka berhamburan diatas tempat tidur itu, hanya kau lah yang selalu membuatku ingin mendekap. Segaris senyuman telah diciptakan, tanpa ada perubahan ekspresi. Ketika aku tertawa, kau tersenyum. Aku marah, kau tetap tersenyum. Aku mengeluh, kau masih saja tersenyum. Aku menangis, kau tiada henti tersenyum. Bingung dan hampir putus asa bagaimana cara membuatmu lebih antusias dan tersenyum lebih lebar. Kau pun selalu membalas dengan senyuman yang memintaku untuk sabar dan bersyukur. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi. Semangat ku hilang ketika kau masih saja tersenyum.

Kopi

Mungkin seperti kopi yang akan selalu kau sukai, dan tak bisa kusukai. Seperti sungai yang terus mengaliri air, dan obor yang tak pernah lepas dari api. Kontradiksi yang terus akan dialami. Bertahan hanya dengan kompromi.