Skip to main content

Hampir Sampai

Tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk dapat berada di titik ini. Segera, apabila lancar, saya akan mendapatkan gelar Master. Suatu hal yang benar-benar di luar rencana dan dugaan saya. Terutama ketika menghadapi kesulitan yang cukup traumatis di masa-masa penyelesaian pendidikan jenjang S1. Ada banyak hal yang membuat saya cukup trauma untuk melanjutkan jenjang pendidikan. 

Manusia berencana, Tuhan yang berkehendak. Terkesan klise memang, namun memang seperti itulah yang terjadi. Lulus S1 dengan nilai sangat tanggung (IPK 2.98) lantas membuat saya tidak begitu percaya diri untuk melamar ke perusahaan-perusahaan yang dianggap bonafide (oleh kedua orang tua saya dan orang tua pada umumnya). Selain itu, memang kekurangan saya yang terlalu cepat bosan, semakin menguatkan hasrat untuk tidak bekerja nine-to-five. Pernah saya mencoba bekerja di kantor, meskipun tidak terlalu formal. Dua kali mencoba di tempat yang kebetulan pemiliknya adalah teman sendiri, tapi tidak pernah ada yang bertahan sampai satu tahun. Alhasil, saya menghidupi kehidupan sejak saat itu sampai sekarang dengan mengambil pekerjaan paruh waktu yang jadwalnya bisa saya sesuaikan dengan yang saya inginkan. 

Suatu ketika saya dihadapkan dengan sebuah tawaran dari Papa. Tawaran untuk melanjutkan sekolah. Saya yang sangat mengetahui kondisi keuangan keluarga pada saat itu, sempat menolak beberapa kali, dengan alasan tidak mau membebani beliau. Entah mengapa desakan itu terus beliau lakukan. Sampai akhirnya ada satu hal yang menyebabkan saya menerima tawaran tersebut. Akhirnya, setelah melakukan survei ke beberapa Universitas, saya menetapkan hati untuk melanjutkan sekolah di Universitas Katolik Parahyangan, namun kali ini dengan jurusan yang berbeda dari S1, yaitu Manajemen. 

Sempat ada kekhawatiran, apakah saya mampu menjalankan pendidikan ini dan menyelesaikannya tepat waktu. Apalagi ilmu pengetahuan saya tentang manajemen benar-benar nol. 

Ternyata benar, beberapa mata kuliah saya lalui dengan hasil yang pas-pas-an. Meskipun begitu, tetap ada mata kuliah yang benar-benar masuk ke dalam otak saya dan membuat saya sangat tertarik untuk terus mempelajarinya. Sampai ke tahap di mana kuliah saya sudah habis, dan saatnya mengerjakan Tesis. 

Pada awal mendaftar untuk mengambil Tesis, memori saya mengenai proses penyelesaian Skripsi kembali terputar di dalam otak. Ada rasa takut dan ragu yang membuat saya stuck, topik apa yang harus saya ambil? 

Satu semester saya lewati dengan tidak mengajukan proposal Tesis dan permohonan pembimbing pada Ketua Jurusan. Sempat beberapa kali terpikir untuk tidak melanjutkan Tesis ini, dan mengundurkan diri dari kampus. Keinginan tersebut tentu saja tidak saya simpan sendiri, beberapa kali saya pernah mengutarakannya ke Papa, namun bisa ditebak, Papa tidak mengizinkan. Hampir putus asa saya ketika itu, apa yang harus saya lakukan, saya semakin bingung. Di tengah kebingungan itu saya mencoba melarikan diri ke kota Yogyakarta. Dengan tujuan berlibur sambil mengunjungi teman di kota itu, saya mencoba mencari topik apa yang bisa saya ambil untuk menyelesaikan pendidikan ini. Ada beberapa perusahaan skala menengah yang menjadi kandidat, salah satunya bahkan sudah saya datangi dan proses wawancara sempat saya lakukan. Namun hasilnya nihil.

Kembali putus asa dengan Tesis, akhirnya saya tetap harus melanjutkan pendidikan ini. Ada banyak hal yang membuat saya harus mengikis semua ego yang ada. Akhirnya, setelah berputar ke sana-sini, topik Tesis saya kembali ke sesuatu yang memang sudah saya kerjakan sebelumnya. LOTF. Proses pengerjaannya juga cukup lama. Terutama karena sejak awal puasa tahun 2014, tepatnya akhir Juni 2014 saya memutuskan untuk berpindah ke Yogyakarta. Menjalani hidup dengan pekerjaan freelance sebagai reporter kuliner. Hal tersebut yang membuat proses penyelesaian Tesis ini menjadi lama. Sempat juga perasaan untuk tidak melanjutkan Tesis ini kembali merasuki pikiran saya, namun ada dorongan besar untuk melanjutkannya, akhirnya kembali saya lanjutkan.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Rencana awalnya saya akan tinggal di Yogya selama satu tahun. Namun tidak sampai satu tahun, tepatnya di awal Januari, perusahaan yang mempekerjakan saya membuat sebuah keputusan. Keputusan yang pada saat itu saya sesali, dan tidak saya ketahui apakah memang itu keputusan yang baik atau buruk. Perusahaan tersebut ditutup. Ok, tidak ada alasan lagi untuk saya menetap di Yogyakarta. Saya harus kembali ke Bandung, dengan berat hati tentunya.

Ternyata memang ini jalannya, saya harus kembali ke Bandung, mengikis semua ego yang ada. Sampailah saya pada tahap, besok 24 Juni 2015, saya akan melaksanakan sidang akhir untuk menyelesaikan pendidikan saya. Suatu hal yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Akhirnya, besok adalah waktu penentuan. Sebuah hadiah untuk kedua orang tua saya tentunya. Bukan menjadi kebanggaan bagi saya, karena sejujurnya saya tidak terlalu fokus pada gelar atau jenjang pendidikan seseorang. Namun bila itu adalah hal yang dapat membuat kedua orang tua saya bangga dan bahagia, saya pun turut bahagia dibuatnya. 

Semoga besok semuanya lancar, apapun yang akan terjadi harus dihadapi. Saya sudah pasrahkan semuanya pada Tuhan. Ini adalah usaha terbaik saya untuk menyelesaikan pendidikan ini, semoga hari esok diberkahi oleh Tuhan.  

Comments

Popular posts from this blog

Jangan Lari!

Masalah Semua orang pasti punya masalahnya masing-masing Tinggal bagaimana cara mereka menghadapi masalah itu Akankah mereka lari? Atau mereka bertahan, dan mencoba untuk memperbaikinya Seiring berjalannya waktu, semakin dewasa kita, maka semakin banyak pula masalah-masalah yang berdatangan. Masalah yang seharusnya kita hadapi agar kita bisa belajar menjadi seseorang yang lebih kuat lagi namun sering kali secara sadar maupun tidak, kita malah menghindarinya. Pernah ga kalian merasa seperti ini? Disaat kalian disakiti atau dikecewakan oleh orang lain, kemudian kalian merasa muak atau lelah, dan ingin pergi jauh dari orang tersebut, kemudian mencari orang baru yang menurut kalian akan lebih baik dari orang yang mengecewakan tersebut. Coba cermati kemudian renungkan kalimat ini : New people are only new for a day. After that they're just people. Who will excite you, disappoint you, scare you a little bit. And when that happens, It's good for avoiding things. But, the problem is yo...

Morning Glory

Wow, pagi ini sungguh cerah! Pagi-pagi ketemu mama yang baru pulang dari jalan-jalannya, kemudian mendapatkan gelang baru sebagai oleh-oleh. Horee! Sesudah merampok gelang, saya pun merampok dompet mama saya. Jadi sekarang saya juga punya dompet baruu, dompet cewe-cewe gituu. Hihi. Keseruan dan kesenangan saya pagi ini tidak cukup hanya sampai disitu. Saya pun mengundang Doraemon untuk menemani saya saat sedang browsing internet ;) Ah, manis sekali dia, mau menemani saya di pagi yang cerah ini.. :) Yaya, selamat pagi semuanyaaa... Semoga pagi ini kalian juga mendapat keseruan seperti yang saya dapatkan! Ohya, pagi ini The Killers bertanya pada saya "Are we human or are we dancer?" :D Sampai jumpa di kehidupan nyata!!

Perjodohan

Semua percakapan konyol ini dimulai disaat saya sedang membujuk rayu tante saya untuk memberikan saya kado di hari ulang tahun saya nanti. Ya, seperti biasa, saya selalu meminta kado dari mereka semua. hahaha.. Walaupun tidak semuanya yang menyanggupi, tapi ya apa salahnya dicoba? :D Tante : "Kamu udah mau umur berapa? 21 ya?" Nana :"Iya nih" Tante :"Ih, tua ya kamu. Udah punya pacar belum??" Nana :*cengengesan* "belum ahhh" Om :"Heh, udah umur 21, kalo belum dapet pacar, nanti susah lhoo.. makanya cari dong pacarrr!" Nana :"ihh, kaya yang gampang aja nyari pacar teh" Om :"Yaa, cari ajaa pokonyaa" Nana :"Yee, emangnya combro, gampang dicarinyaa" Mama :"Ya udah, nanti kalo kamu ga dapet, nanti mama jodohin ama temen mama" Tante :"Iya, kalo ga, sama saudara-saudara nenek aja tuh. Ada yang minta cariin waktu itu. Tapi nenek bingung, masa mau ngejodohin sama si nisa(sepupu sa...