Skip to main content

Posts

Sabarlah Menanti

Perjalanan ini ternyata penuh tanya Pencarian makna tak kunjung mereda Rasa khawatir pun terus melanda Menanti jawaban yang membutuhkan aksi nyata Haruskah terus aku kayuh kapal ini? Meski daratan tak kunjung menghampiri? Menembus badai yang kian menguat Melewati waktu yang terasa melambat Kemudian kudengar lembut suara hati yang meminta untuk tidak berhenti "sabarlah engkau menanti, hadirnya sang mentari yang akan mengajakmu menari menyambut datangnya sang pagi" -- Berhentilah berlari, ada yang menunggumu di sini.

Dari Sebuah Kabar

Mimpi ini tidak pernah mati. Itulah yang seharusnya terjadi. Semakin hari bisa berapi-api. Karena dia lah yang mematikan sepi. Namun ketika muncul resah dalam hati, Berikanlah pertanyaan pada diri, Apakah memang ini mimpi yang dinanti? Ini bukan lagi perihal romansa, namun tetap menyangkut asa dan rasa. Datang lagi sebuah kabar, dari yang sudah lama tidak bercengkrama. Kota ini akan kembali ditinggalkan, demi sebuah mimpi yang tak kunjung pudar. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, namun setiap manusia yang memutuskan untuk pergi ke sana, seolah tidak pernah kembali. Hanya kembali, di saat mereka benar-benar melepaskan semua yang telah digenggam di dalam kota yang penuh akan hiruk pikuk manusia itu. Lantas tercetus sebuah pertanyaan, "haruskah mengikuti langkah mereka?"

Be your self

Mungkin memang petuah " be your self " itu tidak boleh diacuhkan begitu saja. Ya, sudah jelas dan pasti bahwa tidak ada orang yang tidak familiar dengan petuah tersebut. Beberapa diantaranya mungkin sudah bosan untuk mendengarkannya. Tapi pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar melakukan hal itu dengan sepenuh hati? Alih-alih tidak ingin dikecewakan atau tidak ingin dipandang seperti begini ataupun begitu, tidak jarang orang mengeluarkan sikap diluar kebiasaannya. Orang yang sebenarnya sangat menyenangkan, hangat, dan ramah, bisa saja tiba-tiba menjadi sangat kaku, pendiam, dan penuh curiga.  Orang yang sebenarnya penuh dengan ide-ide menarik, wawasan yang luas, bisa tiba-tiba menjadi sangat membosankan, atau terkesan angkuh.  Terlalu banyak informasi yang diserap dari luar pun tidak begitu bagus. Informasi itu akan sangat bagus ketika dijadikan sebagai referensi dalam pengambilan keputusan. Tapi tetap saja keputusan harus sesuai dengan apa yang dirasakan ol...

Awas terjatuh!

Rasanya bagaikan anak kecil yang dibiarkan berjalan sendiri, namun belum juga terjatuh, sudah diteriaki "hati-hati nak, awas kamu terjatuh!". Sontak anak itu akan terkejut, dan mulai meragukan langkahnya. Kemudian ketika suasana sudah agak tenang, sang anak berjalan lagi pelan-pelan, namun penuh ekspresi. Sang ibu menganggapnya sebagai pertanda bahwa anak ini akan mulai berlari. "Jangan berlari nak! Pelan-pelan! Nanti kamu terjatuh! Nanti kamu sakit!". Sang anak sontak akan menghentikan langkahnya lagi, dan mulai berjalan pelan kembali. Ketika pada akhirnya, sang anak tidak pernah merasakan sakitnya jatuh, dan ketika sang ibu tidak mengawasi, ia pun terjatuh begitu kerasnya. Ketika itu terjadi, terbayangkah bagaimana perasaan sang anak? Entahlah, apakah analogi ini bisa mewakili segenap perasaannya.

Kamu lagi Pagi

Pagi membangunkanku dari selimut mimpi Mengajakku menari menghentakkan kaki Menyusun irama yang membuatku berseri Tak pernah ingin aku membiarkannya berlari Pagi jangan pergi Aku tak mau disini sendiri Cukup lelah untuk terus menanti Nada merdu yang menyenangkan hati

Ah Pagi

Jika kamu tanya mana yang lebih kusuka, pagi atau malam, akan kujawab dengan lantang, Pagi! Sebelumnya aku tidak begitu mengerti mengapa aku bisa sesuka itu dengan pagi. Banyak lagu yang membawakan tema tentang pagi yang kemudian aku jadikan lagu favorit. Aku suka pagi, entah apa alasannya.  Pagi seolah selalu membawa keceriaan dalam hariku. Peran pagi sangat penting dalam berlangsungnya aktifitasku. Terkadang, kalau pagiku tidak baik, maka akan sulit bagiku memperbaikinya seharian itu. Pagi dengan langit yang biru, matahari yang bersinar tanpa ditutupi awan, dan awan-awan putih menggumpal, bisa membuatku tidak berhenti tersenyum. Ah, aku suka pagi yang cerah. Aku suka pagi, tapi tidak berarti aku membenci malam. Aku suka malam, tapi aku jauh lebih suka pagi. Lagi-lagi masih tanpa alasan yang jelas, yang aku tahu hanya kecintaanku akan pagi, itu saja. Hari ini, aku sudah melakukan aktifitas dari pagi, keluar rumah bertemu kerabat dan memenuhi kewajibanku. Cerah cua...
Akan tiba saatnya nanti, aku membangunkan mu untuk sarapan. Menyediakan secangkir kopi dan sepiring sandwich untuk memulai aktifitasmu. Kau pun akan tersenyum lembut sambil menatap mataku pagi itu. Pada saat itulah kita akan merasa menjadi orang yang paling beruntung. Aku karena ada kamu, kamu karena ada aku. Di pagi itulah kita akan bersama-sama mengucapkan syukur atas apa yang Tuhan berikan dan jalan yang telah Dia tunjukkan. Akan tiba saatnya nanti, terkuak rahasia ilahi, sehingga aku tidak mengingatmu secara samar lagi :)